February 18, 2009 by kutu kupret
Pada penghujung jingga
dengan matahari yang memerah saga
kuterawang selarik mantra,
mantra yang mereka bilang akan membebaskanmu
Tapi benarkah itu mantra !?
mungkin itu hanya maya yang tak kasat mata
atau amarah barisan kata ?
karena telah kurenggut makna dari pangkuan kata.
Lantas apa artinya mantra jika hanya kata tanpa makna !?
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
December 9, 2008 by kutu kupret
Tak ada yang salah dengan pergi,
Karena kita telah terlanjur sama-sama salah,
Sama-sama kita telah salah ..
memberikan kepercayaan pada orang yang salah.
Jangan kau buat kesalahan lain dengan bertanya kenapa.
Karena ku tak mau kau sakiti,
dan juga tak mau menyakitimu.
Posted in Amarah, Menapaki Rasa | Leave a Comment »
December 2, 2008 by kutu kupret
Posted in Menapaki Rasa | 4 Comments »
November 3, 2008 by kutu kupret
Berbalut rindu,
Kemarin kudatangi dirimu
Berharap menemukan sekelumit kenangan
dalam rinai hujan di awal november
Kawan ..
Sampai kapan kita bisa tunggangi waktu
Menyusuri tiap jengkalnya
Menatap megah burangrang berkalung kabut,
Membelai pesona angkuh asia-afrika,
Menyesap aroma tanah basah di dago
Karena kita telah sama-sama
Menitipkan separuh hati kita
Di jantung bumi parahyangan ini
Posted in Menapaki Rasa | 1 Comment »
October 6, 2008 by kutu kupret
Saat jingga hanya tersisa di sudut mata,
saat bayangku tak lagi ada.
bayang-mu kan datang menyeruak
dengan seikat kembang untuk mencumbui gelap,
dan sebilah sembilu untuk menyayat-ku
hingga saat jingga kembali datang.
Posted in Amarah | Leave a Comment »
October 6, 2008 by kutu kupret
Arrrgghh !!! Entah kenapa saat ini aku tergoda oleh pesona yang sama,
yang kelak akan menghantarkan-ku untuk terjebak pada masalah yang sama juga.
Posted in Menapaki Rasa | Leave a Comment »
September 9, 2008 by kutu kupret
Aku dilahirkan bukan untuk menyakitimu
Tapi kudigariskan tak membahagiakan hidupmu
Suatu hari nanti jika hadir si buah hati
kuberharap slalu tak seperti diriku
Janganlah menangis terkadang cinta itu sadis
Dan janganlah marah terkadang cinta bikin susah
Mungkin aku bajingan tapi bukan penjahat perang
Yang slalu menikam tanpa belas kasihan
Biarlah hujan menyirami kesalahanku ini
Biarlah bulan menyinari penyesalan aku ini
Biarlah bintang menikmati kepedihan aku ini
Biarlah semua jadi saksi yang kualami…
Janganlah menangis terkadang cinta itu sadis
Dan janganlah marah terkadang cinta bikin susah
Mungkin aku bajingan tapi bukan penjahat perang
Yang slalu menikam tanpa belas kasihan
Biarlah hujan menyirami kesalahanku ini
Biarlah bulan menyinari penyesalan aku ini
Biarlah bintang menikmati kepedihan aku ini
Biarlah semua jadi saksi yang kualami…
Posted in Amarah | Leave a Comment »
August 25, 2008 by kutu kupret
Aku adalah Api
yang merayu ranting untuk menyandarkan hidupnya
Lalu padam dan hilang
Saat nyala telah menjadi bara
Aku adalah Air
yang mencumbu dan membelai sungai
Lalu pergi dan berlalu
meninggalkan endap
Aku adalah Ombak
yang bergelombang dan berayun
Menjunjung buih
Lalu menghempaskan-nya pada pantai
Aku adalah Badai
yang bergemuruh dan menggelegar
Namun menimpakan salah pada angin
Saat poranda yang tersisa
Aku adalah Matahari
yang hangat lalu terik menyala
namun tetap meredup dan beringsut
meninggalkan hari pada malam dan rembulan
Tapi aku bukan Bintang
Karena itu adalah kau !!
Posted in Menapaki Rasa | 1 Comment »
August 25, 2008 by kutu kupret
Karena ’selamanya’ itu tak ada.
maka jangan pernah kau tanyakan
‘akankah selamanya diriku ada disana ?’
Seharusnya kau tanya
‘Dapatkah kau selalu berdamai dengan waktu ?,
Untuk menjagaku tetap disana’
Tapi waktu telah mengkhianati, dan meninggalkanku.
Jadi menurutmu apakah kau tetap ada disana ?
Mungkin baiknya kau tanyakan itu pada waktu
atau pada dirimu sendiri
Posted in Amarah | Leave a Comment »
August 21, 2008 by kutu kupret
Senja itu,
Ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali ke dalam ribaanmu
Dalam sepimu dan dalam dinginmu
Walau setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna,
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan,
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti terima dalam daku.
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada,
Hutanmu adalah misteri segala
Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta
Malam itu,
Ketika dingin dan kebisuan menyelimuti mandalawangi,
Kau datang kembali dan berbicara padaku
Tentang kehampaan semua
Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi tanda Tanya tanpa kita mengerti
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah
Dan di antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas hutan-hutanmu
Melalui batas-batas jurangmu.
Aku cinta padamu, pangrango,
Karena aku cinta pada keberanian hidup.
Soe Hok Gie
Jakarta, 19 Juli 1966
Posted in Menapaki Rasa, Uncategorized | Leave a Comment »